Suatu pagi yang cerah. Seorang pemuda tampan bernama Noval sedang duduk di kursi dengan nyaman. Dibawah terik matahari yang menemaninya duduk, dia membaca buku dengan amat serius. Meskipun burung burung berkicauan di atas langit, dia pun tidak menghiraukannya. Tiba tiba datanglah bapak si anak itu. Bapak Alief namanya. Bapak pun memanggil anaknya penuh dengan ceria seperti matahari yang sedang menyinari dunia. Dia menyuruh si Noval untuk membelikan bahan masakan untuk hari ini.
“Ini nak uangnya!” ujar Pak Alief. “Apa tidak kebanyakan pak? Bukankah kita hanya butuh uang dua puluh ribu saja?” sahut Noval dengan heran. “Tidak nak. Siapa tau nanti harganya naik?” kata Pak Alief dengan senyum ceria. “Ya sudah kalau begitu. Aku berangkat ya pak! Assalamu’alaikum!” salam Noval dengan paham. “Wa’alaikumsalam” jawab Pak Alief. Noval pun berangkat dengan menaiki sepedanya yang berwarna kuning.
Sesampainya di pasar, Noval langsung memarkir sepeda dan masuk kedalam pasar. Di dalam pasar, terdapat sebuah toko yang penjualnya sangat baik hati. Dia bernama Masruroh. Atau biasa dipanggil Ibu Ruroh. Di toko itu Noval membeli telur setengah kilo. Lalu dia memberikan uang kepada Ibu Ruroh. Tidak berlama lama, Noval pamit dan meninggalkan toko itu.
Setelah itu Noval pergi ke toko yang lain. Yaitu tokonya Ibu April. Di toko itu Noval membeli seluruh bahan untuk dibuat sayuran. Noval pun diberi harga murah oleh Ibu April. Karena Ibu April adalah teman bapaknya Noval ketika sekolah dulu. Akhirnya Noval pun puas karena telah menjalankan tugas dari bapaknya. Akhirnya Noval pulang dengan gembira.
Sesampainya di rumah, Noval segera memberikan hasil belanjaanya kepada bapaknya. Lalu Noval disuruh bapaknya untuk menjaga adiknya, Aisyah. Karena Aisya anaknya pendiam, jadi Noval tidak perlu menjaga adiknya dengan sulit. Aisyah juga sangat bermain dengan Noval karena Noval adalah anak yang lucu dan sukanya berimajinasi. Setelah lama menjaga adiknya, Noval mengantuk dan akhirnya dia tidur. Di dalam tidurnya dia bermimpi sesuatu.
Noval bermimpi tentang seorang teman yang berasal dari Kalimantan berkenalan dengan seorang temannya yang berasal dari Malang. Perempuan yang berasal dari Kalimantan itu bernama Via dan ia berkenalan dengan seorang Afifah yang berasal dari kota Malang. Setelah dua anak itu berkenalan, mereka pergi ke sebuah sekolah yang di sekolah itu terdapat seseorang berasal dari kota Probolinggo dan dia bisa berbicara menggunakan bahasa madura.
Karena Via dan Afifah tidak bisa berbicra dengan bahasa madura, mereka datng ke anak yang lain. Di pojok kelas, ada seorang wanita. Dia bernama Dinah. Mereka pun saling berkenalan dan Afifah bertanya kepada Dinah. “Halo!! Apakah kamu bisa berbahasa madura??” tanya Afifah penuh dengan senyum. “Maaf ya.. Sya ini orang Bali.. Jadi saya hanya bisa bahasa bali, jawa, dan indonesia saja. Dan saya tidak bisa bahasa madura.” jawab Dinah dengan gerak badan yang sering dia lakukan. Ketika itu Dinah menolong kedua anak tersebut. Dinah pun menanyakan pada seorang temannya bernama Mutia.
Karena Mutia agak bisa bahasa madura, Dinah pun mengajak Mutia untuk bertemu Afifah dan Via. Pada saat itu, Via langsung merangkul Mutia. Begitu pula dengan Mutia. Ternyata mereka adalah saudara yang selama ini jarang bertemu. Tidak lama kemudian, keempat cewek ini kembali kepada seorang Wildan. Sebelum sampai di tempat Wildan tadi, Mutia mengajak seorang cewek lagi. Dia benama Hafsah. Mutia mengajak Hafsah karena mereka berdua adalah tetangga dekat dan mereka sering bermain berdua.
Sesampainya di tempat Wildan tadi, Wildan telah ditemani oleh dua anak berbadan tinggi dan kurus. Dia adalah Hamzah dan Reza. Ketika Hamzah ini bertemu Via, dia seakan-akan malu karena ia biasa dijodoh-jodohin oleh teman-temannya dengan seorang Via. Karena Hamzah dan Via dulu tidak sengaja bertemu. Dan karena Via itu ternyata adalah murid dari sekolah itu dan Via adalah teman Noval satu kelas.
Tiba-tiba Hamzah ingin ke kamar mandi. Dia pun pergi ke kamar mandi bersama Reza dan meninggalkan Wildan sendirian. Di kamar mandi, dia menunggu seorang cewek. Dia bernama Salsa. Karena Salsa terlalu lama di kamar mandi, akhirnya Hamzah pun tertidur dan Reza pun masuk ke kamar mandi duluan. Hamzah bermimpi tentang seseorang temannya yang sangat pintar menggambar. Dia adalah Helmi.
Setelah Salsa dan Reza keluar dari kamar mandi, mereka berdua membangunkan Hamzah dengan serempak. Hamzah pun terbangun dan dia tidak jadi bermimpi tentang seorang temnnya yang bernama Helmi. Akhirnya, karena Salsa cewek sendiri diantara tiga anak itu, Salsa langsung meniggalkan dua cowok tersebut. Hamzah dan reza meniggalkan tempat itu pula.
Reza kembali ke tempat Wildan. Namun, Hamzah malah pergi ke sawung. Di sana tertampak seorang helmi sedang makan bersama Aldi, Ijlal, dan Ilham. Merka berempat sedang membicarakan tentang seorang wanita. Dia adalah Izzah. Akhirnya Hamzah menghampiri mereka dan ikut ngrumpi bareng. “Temen-temen.. Kalian tau nggak gossip terbaru di sekolah?” ujar Helmi. “Apa?” sahut Aldi, Hamzah, Ijlal, dan Ilham dengan penuh keheranan. Lalu Hamzah berkata “Soal Ijlal yang mau pindah?”. “Iya.. Apa benar kata Hamzah. Tapi, kalau aku akan pindah.. Pasti semua sudah tau..” ungkap Ijlal dengan tawa. “Bukan..” kata Helmi. “Terus apa?” kata Ilham dan dan Aldi. Helmi terdiam sejenak.
Setelah mereka semua terdiam, Helmi berkata lagi. “Izzah teman kita ketahuan kalau dia membawa hp..” kata Helmi dengan serius. “Gitu aja di omongin.. Tapi.. Siapa yang mengetahui kalau Izzah membawa HP ya?” ujar Hamzah dengan ekspresi yang penuh dengan ingintahu. “Kata Fanin sih Bu Tata.. Tapi nggak tau lagi jelasnya..” ujar Helmi. Bu Tata adalah pengasuh asrama putrid kelas delapan. “Kalau begitu kita pergi saja ke Fanin!!” sahut Ilham dengan penuh kepercayaan. “Tapi masalahnya.. Fanin sekarang ada dimana?” tanya Aldi. “Kita tanya ke Jihan dulu saja..” ucap Ijlal. “Okelah..” ajak Helmi dan Hamzah.
Sesampainya di Jihan, Ijlal langsung menanyakannya. “Han.. Apa kamu tahu tentang masalah Izzah yang ketahuan membawa hp itu?” tanya Ijlal dengan heran. “Kalau masalah itu aku tidak tau.. Yang tau hanya Fanin, Kak Tata, dan Izzah sendiri..” jawab Jihan. “Kalau begitu.. Kita sekarang mencari Fanin bersama yuk!!” ajak Aldi. “Tapi.. Aku dan Hamzah tidak bias ikut karena kita dipanggil Pak Yuli..” ujar Helmi. Pak Yuli adalah kepala sekolah kita yang selama ini telah membimbing kita dalam belajar. “Ya sudah.. Cepat ke Pak Yuli!!” perintah Aldi kepada dua anak tersebut.
Akhirnya Jihan, Ijlal, Ilham, dan Aldi pergi ke Fanin untuk menanyakan suatu hal tersebut. Kebetulan Fanin sedang duduk di teras masjid yang berada di sebelah kantin sekolah. Di sana Fanin sedang bermain sendiri. Ketika mereka menghampiri Fanin, datanglah seorang Izzah. Akhirnya Izzah dan Fanin bercerita dan teman-teman yang lain mendengarkan. Dan selesaiah maslaah yang telah beredar dan yang sangat menarik hati itu. Lalu mereka meninggalkan area kantin.
Fanin pergi sendiri. Dia ingin menghampiri Khubaib. Karena ada tugas kelompok yang belum diselesaikan. Mereka akhirnya sepakat bahwa akan mengerjakannya saat ini. Namun, ternyata salah satu anggota dari kelompok mereka sakit. Dia masih dirawat di rumah Pak Yuli. Dia bernama Defri. Dia berasal dari Kalimantan. Dia sebetulnya ingin sekali kerja kelompok bersama teman-temannya.
Satu minggu Defri lalui masa sakitnya. Namun dia masih juga belum sembuh. Lalu salah satu temannya yang bernama Akbar mengadakan acara untuk menjenguk seorang Defri yang sedang sakit. Karena teman-teman setuju, akhirnya teman-teman mengambil uang kas kelas yang ada. Mereka akhirnya berangkat besok pagi.
Pagi-pagi sekali, Akbar dengan Khubaib selaku pelopor dalam mengajak teman-teman pergi kerumah Pak Yuli, mereka izin keluar sebentar. Dan ternyata Pak Yuli mengijinkan. Setelah itu, mereka langsung menuju rumah Pak Yuli. Mereka berangkat dengan menggunakan sepeda. Mereka sangat semangat karena bisa menjenguk temannya yang sedang sakit. \
Sesampainya dirumah Pak Yuli, mereka mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum” kata Akbar. Defri langsung menyambut mereka semua dengan gembira karena telah peduli dengan temannya yang sakit. “Silahkan masuk!” ajak defri dengan muka pucat. Namun di dalam hatinya tetap saja gembira. Di suasana yang menggembirakan satu dengan yang lain ini, tiba datanglah deorang Nafisah.
“Permisi.. Assalamu’alaikum..” salam Nafisah. “Wa’alaikum salam” swmua menjawab. Nafisah duduk di kursi yang pojok. Setelah berbincang-bincang, tiba-tiba Nafisah mengajak mereka semua kembali ke sekolah. Karena sudah jam 09.00, mereka semua akhirnya pamit untuk kembali. Kebetulan Defri juga butuh istirahat.
Sampai di sekolah, Nafisah sudah tidak menghiraukan teman-temannya. Karena dia tadi hanya bertugas untuk memanggil teman – temannya saja. Dia kembai masuk ke dalam kelasnya. Ternyarta di kelas sudah dimulai pelajaran Bahasa Indonesia. Nafisah meminta maaf atas keterlambatannya itu. Akhirnya Nafisah dimaafkan dan dipersilahkan untuk duduk.
Pelajaran Bahasa Indonesia telah berakhir. Dan kini saatnya istirahat untuk sholat dhuha dan snack time. Kebetulan hari ini Nafisah yang bertugas menjadi lidder di kelas. Nafisah mengajak teman-temannya pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dhuha. Semua murid melaksanakan perintah Nafisah. Di dalam hati, Nafisah bangga dan senang sekali bisa mempunyai teman-teman yang sangat taat dan patuh itu.
Di masjid, teman – teman Nafisah mengambil air wudhu. Mereka rela mengantri walaupun dengan beriri. Mereka biasa menjalankan sholat dhuha 2 raka’at. Setelah itu, mereka menjalani snack time di kantin. Ternyata di kantin telah ramai.
Namun, ada salah satu teman putri benama Qoni’a tidak membawa uang. Dia berasal dari Mandau, Palangkaraya. Dia salah satu anak dari pendiri sekolah ini, Ust. Amanto Suryalangka. Akhirnya Nafisah menyuruh Qoni’a untuk meminjam uang ke Qonitah. Qonitah adalah salah satu murid yang berasal dari Jakarta. Dia anaknya biasa-biasa saja namun agak humoris.
Akhirnya Qonitah meminjamkan uang kepada Qoni’a. “Seribu saja cukup kan?” Tanya Qonitah dengan mengeluarkan uang dari sakunya. “Ya sudah. Nggak masalah” jawab Qoni’a sambil menerima uang dari Qonitah. Memang Qonitah ini anaknya dermawan. Dia juga senang melihat temannya gembira.
Waktu istirahat telah usai. Kini saatnya semua murid kembali ke kelas. Qonitah kembali ke kelas dengan Riska. Karena riska adalah sahabat dari Qonitah. Riska adalah anak yang rame ketika di kelas dan dia adalah salah satu murid yang sangat Humoris. “Qon, agak cepat! Keburu masuk!” ajak Riska kepada Qonitah. “Ya udah cepetan!” jawab Qonitah.
Sampai dikelas, ternyata masih ada Rizky yang lagi duduk-duduk di kursi depan kelas. Qonitah masuk duluan. Tapi tidak dengan Riska. Mereka malah berbincang-bincang. Setelah berbincang-bincang, Riska mengajak Rizky untuk masuk ke kelas. “Riz, ayo masuk. Gurunya sudah datang!” ajak Riska. “Duluan deh!” balas Rizky. Akhirnya Riska masuk ke dalam kelas lebih dulu.
Rizky tak mau masuk karena dia menunggu temannya, Romy. Dia ingin berbicara sebentar dengan Romy. Karena ada suatu hal yang harus diomongkan. Lima menit telah berjalan, Romy akhirnya dating di hadapan seorang Rizky. “Nggak masuk Riz?” ajak Romy. “Aku mau ngomong sama kamu sebentar. Tentang hal yang kemarin itu lo!” sahut Rizky. “Tapi gurunya sudah datang” nasehati Romy. Akhirnya Rizky masuk ke dalam kelas.
Rizky dan Romy duduk sebangku. Lalu, Rizky mengeluarkan buku pelajaran. Tiba-tiba Rizky mengantuk. Dia akhirnya tidur dikelas. Romy merasa kesempitan kerena setengah bangkunya sudah dikuasai Rizky untuk tidur. Romy tidak tahan. Akhirnya Romy pergi keluar kelas untuk mengambil minum.
Di luar, ada Salma sedang berjalan dengan membawa tas milik Savira. Romy disuruh Salma membantu menaruhkan tas karena Salma terlihat sangat lelah sekali. “Rom, tolong taruh tas ini di tempat duduk Savira ya!” pinta Salma. Tanpa menjawab, Romy langsung membawa tas itu ke tempat duduk Savira. Tapi, Salma melihat sepatu teman-temannya berserakan. Salma akhirnya membereskan sepatu milik teman-temannya sebelum terbuah di sampah.
Lalu Salma mengetuk pintu dan membukanya. “Asslamu’alaikum!” sapa Salma. “Wa’alaikum salam” jawab semua murid dengan nada agak tinggi. “Savira kemana? Kok dari tadi belum masuk kelas?” kata salah seorang murid. Kepala Salma menggeleng karena Salma tidak tau.
Tiba-tiba Savira datang. “Ini dia anaknya!” kata Salma. Mungkin kali ini Salma agak bosan. Jadi Salma tidak memperdulikan. “Aku tadi dari kamar mandi” kata Savira ke Umai. Umai langsung mengerti karena mereka berdua sudah lama berteman sejak Sekolah Dasar dulu. Jadi umai tak perlu menanggapi Savira. Savira akhirnya duduk ke tempat duduknya.
Umai tiba tiba berfirasat bahwa guru akan datang. Dia langsung mempersiapkan bukunya. Namun, Umai lupa kalau bolpoinnya di pinjam dengan adiknya.Uami mencari pinjaman. Dia mendapatkan pinjaman dari salah satu teman yang duduk bersebelahan dengan bangkunya. Dua menit kemudian guru datang. Sepertinya ini perjalanan mimpi yang terakhir.
Kring! Kring! Kring!!! Yusron datang ke rumah Noval. Dia langsung disambut oleh Pak Alief. “Noval ada pak?” tanya Yusron kepada Pak Alief. “Dia masih tidur. Tapi sepertinya sudah bangun.” jawab Pak Alief. Tiba-tiba Noval Datang. Yusron bertanya kepada Noval. “Val, kamu habis mimpi ya?” tanya Yusron. “Iya!” jawab Noval dengan muka lesu. Akhirnya Noval menceritakan kembali kepada Yusron tentang mimpinya semalam.


0 komentar:
Posting Komentar